Badr – We are with you

May 4, 2009 at 6:20 pm | Posted in Rasulullah, Sirah | Leave a comment
Tags: , , ,

A scene before the battle of Badr when the Quraisy are coming to attack the muslims. The Muhajirin are 100% loyal to the prophet. But the prohpet was waiting for an answer from the Anshor people for their opinion in this battle.

Saad bin Muaz a a nobleman Anshor got up and said, “O prophet of Allah, go on and fight for indeed there is not a single mountain that if we wish to cut, we will cut it with you. There is not a single plain that if we wish to pass except that we will pass it with you. There is not a single sea that if we wish to cross except that we will cross it with you. And we urge you O prophet of Allah, to take from our wealth and that which you have taken from our wealth is more beloved than that of which you have left. And O prophet of Allah, we will not tell you as the companions of Musa has told Musa, “O Musa, go and fight you and your Lord and we will stay here”, rather we will tell you, O prophet of Allah, go and fight you and your Lord and we will fight with you.”

The prophet s.a.w. smile hearing this.

It was truely amazing that Anshor people could answer like the Muhajirin during this time.

Advertisements

Dakwah exclusive?

March 13, 2009 at 11:01 pm | Posted in Fikrah, Sirah | 13 Comments
Tags: , , ,

Ya, dakwah adakalanya eksklusif.

Selama tiga tahun pertama, Rasulullah memang mengadakan pertemuan rahsia dengan para sahabat. Bertempat di rumah Arqam bin Abi Arqam, dalam halaqah itulah Nabi membacakan dan mengajarkan wahyu secara terperinci, sebanyak mana yang diturunkan Allah. Mengapa harus rahsia? Jawabnya adalah bahawa salah satu sifat dakwah adalah berhadapan dengan sistem yang bersedia menentang dan menghancurkan Islam. Dahulu para nabi dan rasul datang dengan membawa risalah, namun kebanyakan dakwah itu didustai, bahkan para nabi dikejar-kejar dan banyak yang dibunuh oleh kaumnya sendiri. Sekarang lihat negara Palestin, Turki, Mesir, Arab Saudi dan banyak lagi negara ‘Islam’ yang lain; perkara yang sama masih berlaku.

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mujizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya. (QS.Al-Baqarah: 253)

Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.(QS. Ali Imran 112)

Selain masalah keamanan, tiga tahun Rasulullah SAW merahsiakan dakwahnya memang memiliki hikmah lain yang sangat strategik. Dan juga di masa itu dakwah memiliki sifat yang khas, khusus, unik dan menarik untuk dikaji. Salah satu sifat dakwah Rasulullah yang penting ialah pembentukan asas ataupun dalam bahasa mudah the foundation.[1]

Maka sebagai risalah terakhir, seolah-olah Allah SWT sudah mempersiapkan dakwah nabi-Nya ini dengan persiapan yang baik iaitu tidak terusĀ  melakukan dakwah secara terbuka yang hanya akan melahirkan penentangan dari kaumnya.

Dakwah memerlukan perancangan yang teliti untuk tidak tergesa-gesa membuka diri, sedangkan kekuatan dasarnya belum terbentuk. Maka tidak mengapa merahsiakan Islam kepada umum dengan memilih orang-orang tertentu yang dapat menerima dakwah ini dengan baik sekaligus mempunyai potensi yang boleh dikembangkan untuk memikul beban dakwah. Kerana itulah dakwah memerlukan sedikit masa untuk dilakukan secara tertutup daripada umum, namun begitu berdakwah secara pemilihan adalah fokus demi melahirkan kekuatan dalaman.

Dari sudut lain pula, dakwah itu tidak berhenti sekadar menyampaikan, tetapi dakwah adalah sebuah pergerakan. Dan sebuah pergerakan itu harus memiliki asas kekuatan yang sebenar, iaitu golongan ‘assabiqunal awwalaun’ yang menjadi qa’idah sulbah[2]. Sebelum asas kekuatan ini terbentuk, maka dakwah itu sangat brittle dan mampu dihapuskan oleh musuh-musuh Islam dengan mudah.

Banyak surat sampai kepadaku sama ada dari Morocco, Jawa, Mesir, Syria, Iraq dan negara kamu (Palestin). Penulis-penulisnya mencadangkan satu Muktamar Islam, atau melantik seorang khalifah atau perkara-perkara yang seumpama dengannya. Namun seperti biasa aku akan menjawab:
“Kita wajib memulakan usaha Islam ini dari bawah, iaitu melalui tarbiyyah individu. Apalah gunanya mengadakan muktamar yang menghimpunkan orang-orang yang lemah, tidak mempunyai keinginan sendiri dan tidak mampu melaksanakan satu keputusan atau resolusi. Apa faedahnya berbuat demikian? Adakah kamu mahu mengumpulkan angka-angka KOSONG? “[3]

a) 0+0+0+0+0+0+…..+0 = ?

b) 10+10 = ??

Mana satu mempunyai nilai yang lebih besar?

Nota:

[1] Diterjemah dan diedit daripada sumber.

[2] Analogi qa’dah sulbah di Aku dan sesuatu.

[3] Kata-kata oleh Shakib Arslan.

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.